Selasa, 15 Januari 2013

Penyimpangan Public Relations

Profesi Public Relations (PR) atau dikenal dengan sebutan Hubungan Masyarakat (Humas) di Indonesia memang saat ini sedang menjadi sorotan. Ini terbukti dari banyaknya universitas di Indonesia yang mengadakan fakultas ilmu komunikasi atau yang memasukkan ilmu komunikasi ke dalam fakultas ilmu sosial dan politik.

Dari Ilmu Komunikasi tersebut terdapat konsentrasi Hubungan Masyarakat atau Public Relations. Namun, apakah anak-anak yang baru lulus sekolah menengah atas ataupun para profesional kerja atau pengusaha atau eksekutif mengetahui mengenai praktik kerja Public Relations dan bagaimana pengaplikasiannya?

Di Indonesia profesi sebagai Humas atau Public Relations belum dianggap sebagai kesatuan kerja profesi di perusahaan yang “crucial”. Ini terbukti dengan adanya stereo type yang berkembang di Indonesia, baik praktisi atau mahasiswa atau pengusaha masih menganggap profesi tersebut hanya sebagai kegiatan Publisitas atau publicity semata.

Padahal dari apa yang kita ketahui kegiatan publisitas hanyalah sebagian kecil dari job desk pekerjaan profesi Hubungan Masyarakat. Hal tersebut didukung oleh daripada pendapat praktisi (bidang lain) yang menganggap kegiatan Humas hanya sebagai halnya publisitas semata. Di badan pemerintahan ataupun badan usaha swasta masih hanya menganggap profesi Humas sebagai kegiatan menginformasikan suatu kebijakan, mengadakan press conference, dan membuat tulisan-tulisan pada papan pengumuman. Tanpa mereka sadari bahwa dalam melakukan kegiatan publisitas tersebut seorang Public Relations atau Humas harus memiliki strategi-strategi Public Relations.

Selain itu di Badan Pemerintahan biro Humas hanya dititik beratkan pada pembuatan teks pidato yang akan disampaikan oleh Mentri atau Kepala pimpinan. Apakah sudah sebegitu parahnya paradigma mengenai profesi Public Relations atau Humas di Indonesia? Dalam konteks lain, banyak sekali mahasiswa yang mengambil jurusan Public Relations adalah sebagai Event Orginizer atau kegiatan Marketting semata. Sungguh prihatin dengan pernyataan tersebut.

Darimana kesalahan dalam persepsi mahasiswa tersebut muncul? Apakah dari akademisi yang mendidik para mahasiswanya? Atau dari kurikulum yang dibuat di Universitas? Atau kesalahan persepsi tersebut muncul dari kesalahan dari kurang memasyarakatnya profesi Hubungan Masyarakat di Indonesia?

Profesi Public Relations sangat berbeda dengan Event Orginizer. Seorang PR atau Humas akan membuat ide dan strategi event/program apa yang cocok untuk brand activation. Sehingga Public Relations hanya membuat strategi dan konsep dari event dan bukannya mengurusi event/program tersebut. Dalam event/program tersebut PR hanya sebagai fungsi controlling dari apa yang sudah dikerjakan oleh event orginizer. Dalam kegiatan Marketing, seorang staff Public Relations Marketing bukan yang menjalankan kegiatan marketing. Tetapi seorang staff PR Marketing adalah orang yang bertanggung jawab untuk membuat Strategi Kegiatan Marketing yang akan dijalankan. Strategi Marketing tersebut dibuat dengan beberapa pertimbangan dan menyesuaikan target audience dan stakeholder, serta dari beberapa aspek lainnya. sehingga salah besar apabila seorang PR Marketing dianggap sebagai Menejemen Marketing di perusahaan.

Dalam berbagai buku mengenai profesi Public Relations yang populer, menjelaskan bahwa profesi ini muncul setelah seorang tokoh bernama Ivy Lee (1877-1934) yang membuat strategi dalam penyelesaian krisis antara pengusaha batu baru dengan buruhnya. Dari penyelesaian kasus tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi Public Relations merupakan salah satu fungsi menejerial yang dapat menyelesaikan sebuah krisis yang terjadi. Dari situlah muncul lagi anggapan kalau Public Relations adalah sebuah profesi dengan julukkan “Pemadam Kebakaran”. Julukkan tersebut tertancap pada profesi Humas karena masih banyak perusahaan yang baru akan memperkerjakan staff PR-nya secara intens hanya ketika saat terjadi krisis saja.

Mungkin sebagian dari kita belum mengetahui apa saja sebenarnya konteks kerja Humas. Dalam buku Affective Public Relations (Scott M. Cutlip) menjelaskan bahwa Public Relations terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya; Media Relations, Public Affair (Government Relations), Menejemen Issue, Litigation Public Relations, Community Development (biasanya menangani mengengai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility), PR Marketing, dan lain lain. Setiap bagian dalam Public Relations yang dijelaskan dalam buku tersebut setiap staff kehumasan mempunyai job desk masing-masing yang berbeda-beda. Sehingga fungsi Public Relations itu sendiri mencakup banyak aspek yang dapat menunjang berbagai kegiatan perusahaan. Bukan hanya sebagai kegiatan publisitas, marketing, atau event orginizer semata.